Pink Arrow, Bow Tie Hearts Blinking, Letter F faizatunnisa's blog: Larangan Dalam Sholat

Translate Language

hadist-hadist Rasulullah SWT

"Siapa yang membaca tiap habis shalat, Subhanallah 33 kali, Alhamdulillah 33 kali, Allahu Akbar 33 kali, lalu untuk mencukupkan bilangan seratus membaca 'Laa ilaaha illallah wahdahu laa syariika lahu, lahul-mulku walahul-hamdu wahuwa 'alaa kulli syai'in qadir' maka akan diampunkan baginya semua dosa-dosanya meski pun sebanyak buih air laut." (HR Muslim)
Ibnu Umar r.a. berkata: Bersabda Nabi SAW, "Cukurlah kumis dan peliharalah jenggot."
(Bukhari - Muslim)
Sesungguhnya pengobatan dengan mantra-mantra, kalung-gelang penangkal sihir dan guna-guna adalah syirik. (HR. Ibnu Majah)
Rasulullah Saw melarang mengapur kuburan, duduk-duduk di atas kuburan
dan membina kuburan (dibangun dengan bata atau dengan ubin, dll) tapi
berupa unggukan tanah saja setinggi satu jengkal. (HR. Muslim)
Seorang sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, yang bagaimanakah orang yang baik itu?” Nabi Saw menjawab, “Yang panjang usianya dan baik amal perbuatannya.” Dia bertanya lagi, “Dan yang bagaimana orang yang paling buruk (jahat)?” Nabi Saw menjawab, “Adalah orang yang panjang usianya dan jelek amal perbuatannya.” (HR. Ath-Thabrani dan Abu Na’im)
Sebaik-baik wanita ialah yang paling ringan mas kawinnya. (HR. Ath-Thabrani)

Rabu, 15 Agustus 2012

Larangan Dalam Sholat


  1. Bercelana saja Dari Jabir ra.: “Nabi saw melarang shalat dengan memakai celana saja.” (HR. Khatib Al-Baghdadi) Laki-laki yang shalat hanya dengan menggunakan celana, tanpa menutup badan bagian atas atau sedikitnya kedua bahunya berarti telah melanggar larangan shalat. 
  2. Memakai kain yang cupet Dari Buraidah ra : “Nabi saw melarang seseorang shalat dengan satu kain yang cupet dan melarang seseorang shalat dengan bercelana tetapi kedua pundaknya tidak ditutup kain.” (HR. Abu Dawud dan Hakim) Laki-laki yang shalat hanya mengenakan satu kain yang cupet-kain pendek yang bila ditarik ke atas bagian bawah (kemaluannya)terlihat dan bila ditarik ke bawah, pundaknya terbuka. 
  3. Pundak Terbuka Dari Buraidah ra.: “Nabi saw melarang seorang shalat dengan satu kain yang cupet dan melarang seseorang shalat dengan bercelana tetapi kedua pundaknya tidak ditutup kain.” (HR. Abu Dawud dan Hakim) 
  4. Menjulurkan kain ke tanah Dari Abu Hurairah ra.: “Nabi saw melarang seseorang menjulurkan kain ke tanah dan menutup mulutnya dalam shalat.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim) Laki-laki yang shalat dengan memakai celana atau sarung atau lainnya sampai kainnya menyentuh tanah berarti telah melanggar larangan hadits di atas. 
  5. Menggelung rambut Dari Ummu Salamah ra.: “Nabi saw melarang seseorang laki-laki shalat dengan rambut kepalanya diikat/digelung.” (HR Thabarani) 
  6. Dekat orang berbicara Dari Ibnu ‘Abbas ra.: “Nabi saw melarang seseorang shalat di belakang orang yang sedang berbicara atau sedang tidur.” (HR Ibnu Majah) Orang yang hendak shalat tidak boleh memilih tempat dekat orang yang sedang berbicara atau sedang tidur. Ia hendaknya memilih tempat lain. Nabi saw pernah shalat malam berdekatan dengan tempat ‘Aisyah tidur, bahkan ‘Aisyah tidur pada arah kiblat nabi. Bila Nabi sujud dan kaki ‘Aisyah menyentuh kepalanya, beliau memijit kaki ‘Aisyah. Hal ini menunjukkan shalat dibelakang orang tidur bukan haram tapi makruh dan makruh dan makruh sesuatu yang lebih baik dihindari bila tidak terpaksa. Adapaun shalat di belakang atau di dekat orang yang berbicara tetap dilarang karena tidak ada keterangan dari nabi saw. Namun tidaklah berdosa apabila ketika shalat datang beberapa orang yang berbicara di dekatnya. 
  7. Tergesa-gesa Dari Samurah ra.: “Nabi saw melarang seseoarng tergesa- gesa dalam melakukan shalat.” (HR. Hakim) 
  8. Menahan Kentut, kencing atau berak Dari Abu Umamah ra.: “Nabi saw melarang seseoarang shalat sambil menahan kentut, kencing, atau berak” (HR. Ibnu Majah) 
  9. Memejamkan mata Dari Ibnu ‘Abbas ra.: “Nabi saw bersabda:’Bila seseoarang di antara kamu melakukan shalat, janganlah ia memejamkan kedua matanya.” (HR. Thabarani dan Hakim) Memejamkan mata ketika shalat dengan alasan agar khusyu’ tetap dosa karena melanggar larangan nabi saw dalam hadits di atas. 
  10. Mencondong –condongkan badan “Apabila seorang di antara kamu shalat, hendaklah ia menenangkan semua anggota badannya (tangan dan kaki) dan janganlah mencondong- condongkan badan seperti dilakukan oleh orang Yahudi.” (HR. Hakim dan Tirmidzi) 
  11. Mendongak Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Hendaklah orang-orang berhenti mendongak ke langit ketika shalat atau penglihatan mereka disampar (dibutakan).” (HR. Ahmad, Muslim, dan Nasa’I) Dari Ibnu ‘Umar ra.: “Nabi saw bersabda: ‘Janganlah kamu layangkan pandangan kamu ke atas ketika shalat karena akan celaka.” (HR Ibnu Majah dan Thabarani) 
  12. Menoleh ke kanan atau ke kiri Dari Abu Hurairah ra.: “(Rasullullah) saw pernah menoleh ke kanan dan kekiri dalam shalat, lalu Allah menurunkan firman-Nya: ‘Sungguh beruntung orang- orang mukmin, yaitu orang- orang khusyu’ dalam shalat mereka,’lalu Nabi saw tenang, tidak lagi menoleh ke kanan dan kekiri.” (HR.Thabarani) Dari Abu Hurairah ra.: “Nabi bersabda: ‘Apabila seseorang diantara kamu berdiri untuk shalat, hendaklah ia mengucapkan shalawat untukku sampai selesai dan janganlah ia menoleh dalam shalatnya karena sesungguhnya ia sedang bermunajat kepada Tuhannya selama melakukan shalat.” (HR.Thabarani) 
  13. Membunyikan telapak tangan Dari Mu’adz bin Anas ra.:”Nabi saw bersabda: ‘Tertawa ketika shalat, menoleh dan membunyikan telapak tangan ketika shalat (terlarang).”(HR. Ahmad, Thabarani, dan Baihaqi) Orang yang sedang shalat dilarang membunyikan telapak tangannya dengan cara menjalin jari-jari tangan, lalu menepuk- nepukkan telapak tangannya. 
  14. Menguping Dari Abu Sa’id ra.: “Nabi saw bersabda: ‘Bila seseorang di antara kamu melakukan shalat, janganlah ia memandang ke atas dan jangan pula menguping..” (HR. Thabarani dan Hakim) 
  15. Bercekikikan Dari Jabirra.: “Nabi saw bersabda..: ‘Senyum tidak membatalkan shalat, tetapi bercekikikan memutuskan (pahala) shalat.” (HR. Baihaqi dan Al-Khatib)
  16. Berbicara Dari Zaid bin Arqam, katanya: “Kami pernah berbincang- bincang ketika shalat. Orang lain di antara kami juga berbincang- bincang dengan orang yang disampingnya ketika shalat, sehingga turunlah ayat ‘waqumuu lillaahi qaanitiin’ (dan shalatlah kamu karena Allah dengan taat), lalu kami diperintahkan untuk diam dan dilarang berbincang- bincang.” (HR Jama’ah kecuali Ibnu Majah) Dari ‘Abdullah (binMas’ud), ia berkata: “Kami dahulu biasa bercakap-cakap ketika shalat. Saya datang kepada Rasullullah, lalu memberi salam kepadanya, tetapi beliau tidak menjawabnya dan menahanku supaya tidak maju dan tidak berbicara. (selesai shalat) Rasullullah bersabda:’Sesungguhnya Allah berbicara kepada NabiNya menurut kehendakNya’” – Syu’bah berkata: “Saya kira beliau bersabda: ‘ Dengan apa yang dikehendaki-Nya- dan diantara yang Allah katakan kepada Nabi- Nya saw (ialah): janganlah kamu berbicara ketika shalat.’” (HR Ahmad) 
  17. Menguap dengan bersuara  Dari Abu Hurairah, ia berkata: “Nabi saw bersabda: ‘Bila seseorang diantara kamu menguap ketika shalat hendaklah ia tutup mulutnya sedapat-dapatnya dan janganlah ia menyuarakan ‘aah’ karena suara tersebut menyebabkan setan akan mentertawainya.’” (HR. Bukhari) 
  18. Menutup mulut Dari Abu Hurairah ra: “Nabi melarang seseorang menjulurkan kain ke tanah dan menutup mulutnya dalam shalat.” (HR. Ahmad, Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Hakim) Orang yang menutup mulutnya ketika shalat, baik dengan tangan maupun dengan kain dan sebagainya, bukan karena menguap berarti telah melakukan perbuatan dosa.
  19. Meludah ke kanan atau ke kiri Dari Anas, ia berkata: “Telah bersabda Rasullulah saw:’Seseorang yang sedang shalat sesungguhnya sedang bermunajat kepada Tuhannya. Oleh karena itu, janganlah sekali- kali ia membuang ludah di hadapannya dan jangan pula dikanannya, tetapi (ia boleh meludah) ke bawah kaki kirinya.’” (HR Bukhari dan Muslim) pada riwayat lain (disebutkan): “Atau (boleh meludah) ke bawah telapak kakinya.” 
  20. Mengangkat tangan untuk takbir melebihi daun telinga Dari Hakam bin ‘Umair ra.; “Rasullullah saw pernah mengajarkan kepada kami:’Jika kamu berdiri untuk shalat, angkatlah kedua tanganmu dan janganlah melebihi telinga, kemudian ucapkanlah allahu akbar, subhaanakallaahumma wa bihamdika wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaha ghairuk (maha besar Allah, Maha suci Engkau ya Allah, dan dengan segenap rasa syukur kepada-Mu, Mahatinggi kemuliaan-Mu, tiada Tuhan selain Engkau); dan jika kamu tidak menambah bacaan ini, hal itu sudah cukup bagi kamu.” (HR. Thabarani)
  21. Berkacak pinggang Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Nabi saw melarang berkacak pinggang ketika shalat (HR. Jama’ah kecuali Ibnu Majah) Dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasullullah saw bersabda:”Berkacak pinggang pada waktu shalat adalah perbuatan penghuni neraka (Yahudi dan Nasrani)” (HR Ibnu Hibban) 
  22. Menjalin (menganyam) jari- jari tangan Dari Sa’ad bin Ishaq bin Ka’ab bin ‘ujrah, dari bapaknya, dari neneknya: ” Nabi saw bersabda: ‘ seseorang yang telah bersuci di rumahnya, kemudian keluar semata-mata untuk melakukkan shalat berada dalam keadaan shalat sampai selesai shalatnya. Oleh karena itu, janganlah seseorang diantara kamu menjalin (menganyam) jari-jari tangannya ketika shalat.’” (HR. Thabarani) 
  23. Tergesa-gesa dalam ruku’ dan sujud Dari Abu Hurairah ra., ia berkata: “Rasulullah saw bersabda: ‘Orang yang paling jahat dalam melakukan pencurian adalah orang yang mencuri shalatnya.’ (Abu Hurairah) bertanya: ‘Bagaimana orang yang mencuri shalatnya itu ? Sabdanya: ‘Yaitu orang yang tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya.” (HR Ibnu Hibban) Dari ‘Ubadah bin Shamit ra., Nabi saw bersabda: “Jika seseorang menyempurnakan shalatnya, lalu ia sempurnakan ruku’ dan sujudnya, (pada hari kiamat) shalatnya akan berkata: ‘Mudah- mudahan Allah memelihara kamu seperti kamu memelihara aku, sehingga (martabatmu) dinaikkan. ‘Akan tetapi, jika ia melakukan shalat dengan jelek, yaitu tidak menyempurnakan ruku’ dan sujudnya, shalatnya akan berkata: ‘ Mudah-mudahan Allah menelantarkan kamu seperti kamu mehnelantarkan aku.Selanjutnya shalat itu dilipat seperti kain lapuk yang dilipat, lalu dipukulkan ke wajahnya.” (HR. Thayalisi) 
  24. Tidak membaca ayat Al- Qur’an pada waktu ruku’ dan sujud Nabi melarang membaca Al- Qur’an dalam ruku’ dan sujud (HR. Muslim dan Abu ‘Awanah) Dari Ibrahim bin ‘Abdullah bin Hunain, sesungguhnya bapaknya bercerita kepadanya bahwa ia pernah mendengar ‘Ali bin Abi Thalib berkata: “Rasullullah saw melarang aku membaca (al- Qur’an) pada waktu ruku’ dan sujud.” (HR. Ahmad dan Ibnu Hibban) 
  25. Tidak meluruskan punggung waktu ruku’ dan sujud Dari Abu Mas’ud ra : “Nabi saw bersabda: ‘Tidak sempurna shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang punggungnya ketika ruku’ atau sujud.” (HR. Ahmad, Nasa’I, Ibnu Majah dan Tirmidzi) Dari ‘Abdurrahman bin ‘Ali bin Syaiban Al-Hanafi, dari bapaknya- dia adalah salah seorang dari enam utusan (yang datang kepada nabi)-ia berkata: ” Kami datang kepada Rasulullah saw, lalu kami shalat bersama beliau, kemudian ada seorang laki-laki yang terlihat oleh beliau, kemudian ada seorang laki-laki yang terlihat oleh beliau tidak meluruskan tulang punggungnya ketika ruku’ dan sujud.(beliau) bersabda: ‘Sesungguhnya tidak sempurna shalat seseorang yang tidak meluruskan tulang punggungnya.” (HR. Ibnu Hibban) 
  26. Membungkuk ketika sujud Dari Ibunu ‘Amr ra.: “Nabi saw bersabda: ‘ Hendaklah kamu melakukan sujud dengan lapang dan janganlah kamu membungkukkan punggung kamu seperti membungkuknya hewan.” (HR. Dailami) 
  27. Kening terhalang Dari Ibnu ‘Abbas: “Sesungguhnya Nabi saw bersabda: ‘Saya diperintahkan bersujud dengan tujuh (anggota badan) dan aku tidak boleh merintanginya dengan rambut atau kain. ” (HR. Ibnu Hibban) 
  28. Menempelkan lengan ke tanah waktu sujud Dari Anas sesungguhnya Nabi saw bersabda: “Luruskanlah kamu dalam sujud dan janganlah salah seorang di antara kamu menempelkan kedua lengannya (di tanah) seperti anjing.” (HR. Jama’ah) 
  29. Meniup Dari Zaid bin Tsabit ra: “Nabi saw melarang meniup ketika hendak sujud dan meniup ketika minum.” (HR.Thabarani) Ketika sujud dilarang meniup meskipun untuk membersihkan tempat sujudnyadari sesuatu yang mengganggu. 
  30. Mengusap pasir yang menempel pada kening Dari Watsilah ra : “Nabi saw bersabda: ‘Seseorang tidak boleh mengusap pasir di keningnya sampai ia selesai shalatnya. Akan tetapi, ia boleh mengusap keringat dari kedua pelipisnya karena malaikat akan memintakan rahmat untuknya selama belas sujud masih ada di antara kedua matanya.’” (HR Thabarani dan Al-Khatib) 
  31. Menjepit kedua telapak tangan dengan paha / lutut waktu ruku’ atau duduk diantara sujud. Dari Abu Ya’fur, ia berkata: “Saya mendengar Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: ‘Aku pernah shalat di samping bapakku, lalu kedua telapak tanganku aku jepit dengan kedua pahaku dan aku dilarang berbuat demikian. Ia berkata: Dahulu kami berbuat seperti itu, lalu kami dilarang melakukannya dan kami diperintah meletakkan telapak tangan pada lutut.” (HR.. Ibnu Hibban) Dari Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash , ia berkata: “Aku dahulu kalau shalat kedua telapak tanganku kujepitkan pada kedua lutut, kemudian bapakku (Sa’ad) melihatku (berbuat demikian), lalu ia berkata:’Dahulu kami pernah berbuat demikian, tetapi kami dilarang melakukannya seperti itu dan kami diperintahkan (meletakkannya) pada lutut.” (HR Ibnu Hibban) 
  32. Bertopang dengan Tangan kiri Dari Ibnu ‘Umar ra.: “Nabi saw melarang seseorang bertopang pada tangan kirinya ketika duduk dalam shalat. Beliau bersabda: ‘Cara seperti itu adalah cara shalat orang Yahudi.” (HR Hakim dan Baihaqi) 
  33. Duduk di atas tumit Dari ‘Ali ra : ” Nabi bersabda: ‘Janganlah kamu duduk di atas tumit ketika duduk antara dua sujud.’ ” (HR Ibnu Majah) Dari Samurah ra: “Nabi saw melarang duduk di atas tumit dalam shalat.” (HR. Hakim dan Baihaqi) Dari Abu Hurairah, katanya: “Rasulullah saw melarangku melakukan tiga perkara, yaitu mematuk sepertimematuknya ayam jantan; duduk di atas tumit seperti duduknya anjing; dan seperti menolehnya musang.” (HR Ahmad) 
  34. Membersihkan pasir Dari ‘Ali bin ‘Abdurrahman Al- Mu’awi, sesungguhnya ia berkata: “Ibnu ‘Umar melihat saya ketika saya membersihkan pasir saat melakukan shalat. Tatkala selesai shalat ia melarangku dan berkata: ‘Lakukanlah (shalat) sebagaimana yang Rasulullah saw lakukan. ‘Ia berkata: ‘Bila beliau duduk dalam shalat, beliau letakkan telapak tangan kanannya pada paha kanannya dan ia genggam semua jari- jarinya dan ia acungkan jari sebelah ibu jarinya (telunjuk) dan beliau letakkan telapak tangan kirinya pada paha kirinya. ‘” (HR Ibnu Hibban) Dari Mu’aiqib, dari Nabi saw., beliau bersabda – tentang masalah seseorang meratakan debu ketika ia hendak sujud: ” Jika engkau memang mau berbuat demikian, berbuatlah sekali saja.” (HR Jama’ah) 
  35. Duduk istirahat dengan menegakkan jari-jari kaki Dari Samurah ra : “(Rasulullah) saw telah menyuruh kami jika kami melakukan shalat, ketika kami mengangkat kepala kami dari sujud supaya kami duduk dengan tenang di tempatnya (seperti duduk pada tahiyyat awal) dan melarang duduk dengan menegakkan jari-jari kaki.” (HR Hakim dan Thabarani) 
  36. Membalikkan tangan Dari Jabir bin Samurah, ia berkata: ” Dahulu ketika kami shalat bersama Rasulullah ada salah seorang di antara kami membalikkan telapak tangannya yang kanan atau yang kiri (sambil mengucapkan salam), lalu Rasulullah saw bersabda: ‘Mengapa aku lihat kamu sekalian membalikkan tangan kamu seperti ekor kuda larat ? Tidakkah cukup seseorang di antara kamu tetap meletakkan tangannya pada pahanya, kemudian ia member salam kepada (saudaranya) yang ada di sebelah kanannya dan yang ada disebelah kirinya ” (HR Ibnu Hibban)

Waktu-Waktu Terlarang untuk Melaksanakan Shalat

Waktu-waktu terlarang yang kita maksud pada pembahasan ini adalah waktu untuk melaksanakan shalat sunnah. Terdapat tiga waktu terlarang untuk mengerjakan shalat sunnah, yaitu:
  1. Waktu terbit matahari.
  2. Waktu condong matahari pada tengah hari.
  3. Waktu tenggelamnya matahari.
Dari ‘Uqbah bin ‘Amir radhiyallahu ‘anhu, dia berkata, “Ada tiga waktu yang Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat atau mengubur mayat pada waktu-waktu tersebut, yaitu ketika matahari terbit hingga dia meninggi, ketika bayangan seseorang tampak tegak lurus saat dia berdiri dia bawah sinar matahari hingga condongnya matahari, ketika pancaran sinar matahari semakin berkurang saat hendak terbenam hingga waktu terbenamnya.” (Hadits shahih, diriwayatkan oleh Ibnu Majah, Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Di antara ulama terdapat perbedaan pendapat ilmiah tentang tetap boleh atau tidaknya melaksanakan shalat sunnah pada waktu terlarang, jika ada sebab melaksanakannya. Dua pendapat ulama tersebut adalah:
  1. Shalat sunnah boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat, jika ada sebab melaksanakannya.
  2. Shalat sunnah tidak boleh dilaksanakan pada waktu-waktu terlarang untuk melaksanakan shalat, meskipun ada sebab melaksanakannya.
Dalam permasalahan ini pendapat yang lebih kuat adalah pendapat pertama (yang membolehkan jika ada sebab). Wallahu a’lam. Di antara contoh sebab tersebut adalah shalat tahiyyatul masjid, shalat gerhana, istisqa’, dan shalat sunnah dua rakaat setelah berwudhu.
Mari kita sertakan beberapa contoh tentang penjelasan di atas. Semoga menambah pemahaman kita.
Pada saat kita masuk ke sebuah masjid pukul 06.00, misalnya untuk mengikuti pengajian, bolehkah kita shalat tahiyyatul masjid padahal saat itu adalah waktu terlarang untuk shalat? Jawabannya: Boleh, karena kita memiliki sebab untuk melaksanakan shalat di waktu terlarang tersebut, yaitu karena kita masuk ke dalam masjid.
Contoh lain, yaitu saat kita berwudhu pada pukul 11.30, apakah kita boleh melaksanakan shalat sunnah dua rakaat setelah wudhu? Jawabannya: Boleh, karena sebab kita melaksanakan shalat sunnah tersebut adalah kita selesai melaksanakan wudhu. Shalat sunnah dua rakaat setelah berwudhu merupakan salah satu tuntunan dalam Islam yang ganjarannya begitu mulia. Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata kepada Bilal ketika shalat shubuh, “Wahai Bilal, beritahukanlah kepadaku tentang sebuah amal yang paling engkau harapkan dalam Islam, karena aku mendengar suara kedua sendalmu berada di hadapanku di surga.” Bilal berkata, “Aku tidak mengetahui amalan yang paling aku harapkan (sebagai amal andalan) selain bahwasanya aku tidaklah berwudhu pada malam atau siang hari, melainkan aku akan shalat semampuku.” (Hadits muttafaq ‘alaih)
Adapun jika kita sekadar hendak shalat di waktu terlarang, tanpa ada sebab tertentu, maka itu tidak diperbolehkan.
Waktu-Waktu dan Tempat-Tempat yang Dikecualikan dari Pelarangan
عن عقبة بن عامر رضي الله عنه قال: ((ثلاث ساعات كان رسول الله صلى الله عليه وسلم ينهان أن نصلي فيهن أو أن نقبر فيهن موتانا: حين تطلع الشمس بازغة حتى ترتفع، و حين يقوم قائم الظهيرة حتى تميل الشمس و حين تضيف الشمس للغروب حتى تغرب
Dari ‘Uqbah bin Anir radhiyallhu ‘anhu, dia berkata, “Tiga waktu yang Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam melarang kami untuk shalat pada waktu-waktu tersebut atau menguburkan mayat pada saat tersebut adalah ketika matahari terbit hingga matahari tersebut meninggi, ketika tengah hari hingga matahari condong, dan ketika petang hari hingga saat matahari terbenam.”

Tempat-Tempat Terlarang untuk Melaksanakan Shalat

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Aku diberi keutamaan atas para nabi dengan enam hal: aku diberi jawaami’il kalim (kalimat ringkas namun padat makna –pen), aku ditolong pada peperangan (dengan rasa takut pada dada musuhku), harta rampasan perang dihalalkan bagiku, bagiku bumi dijadikan untuk bersuci (tayamum) dan sebagai masjid (tempat untuk shalat –pen), aku diutus kepada seluruh makhluk, dan aku menjadi penutup para nabi.” (Hadits shahih, riwayat Muslim)
Berdasarkan hadits tersebut, dapat dipahami bahwa seluruh bagian permukaan bumi adalah masjid (tempat untuk shalat), kecuali kuburan, kamar mandi, dan kandang unta. Pengecualian tersebut disebutkan pada hadits-hadits berikut ini:
Dari Jundub bin Abdullah Al-Bajlaa, dia berkata, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lima hari sebelum beliau wafat, beliau bersabda, “Ketahuilah bahwa umat sebelum kalian menjadikan kubur para nabi mereka dan orang-orang shalih mereka sebagai masjid. Ketahuilah, jangnlah kalian menjadikan kuburan sebagai masjid-masjid. Sesungguhnya aku melarang kalian dari hal tersebut.” (Hadits shahih, riwayat Muslim)
Dari Abu Sa’id Al-Khudry, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, ‘Seluruh bagian bumi adalah masjid, kecuali kuburan dan kamar mandi’.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah, Abu Daud, dan Tirmidzi)
Dari Barra ‘ bin Azib, dia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya tentang shalat di kandang unta, maka beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Janganlah kalian shalat di kandang unta, karena sesungguhnnya itu di antara tempat setan-setan.’ Dan beliau ditanya tentang shalat di kandang kambing, maka beliau bersabda, ‘Shalatlah kalian di sana karena dia merupakan tempat yang mengandung berkah.’.” (Hadits shahih, riwayat Ibnu Majah dan Abu Daud)

Larangan Sholat di Antara Tiang-tiang

 
كنا ننهى أن نصف بين السواري على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم ، و نطرد عنها طردا
 “Kami dilarang membuat shof di antara tiang-tiang pada zaman Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam dan kami menjauh darinya.” Dikeluarkan oleh Ibnu Majah (1002), Ibnu Khuzaimah (1567), Ibnu Hibban (400), al-Hakim (1/218), al-Baihaqi (3/104), dan ath-Thoyalisi (1073) dari jalan Harun bin Muslim, haddatsana Qotadah dari Mu’awiyah bin Qurroh dari Bapaknya, ia berkata : lalu ia menyebutkan hadits ini.
Al-Hakim berkata : “Isnadnya shohih”, dan disepakati adz-Dzahabi.
Aku katakan : Harun ini mastur (salah satu jenis majhul, pent) sebagaimana dikatakan oleh al-Hafidz, akan tetapi ia memiliki syahid dari hadits Anas bin Malik yang menguatkannya, Abdul Hamid bin Mahmud meriwayatkannya, ia berkata :

صليت مع أنس بن مالك يوم الجمعة ، فدفعنا إلى السواري فتقدمنا و تأخرنا ، فقال أنس : كنا نتقي هذا على عهد رسول الله صلى الله عليه وسلم
“Aku sholat bersama Anas bin Malik pada hari jum’at, maka kami terdesak di antara tiang-tiang, lalu kamipun maju atau mundur, lalu Anas berkata : kami dahulu menjauhi ini (tiang) di zaman Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam”. Dikeluarkan oleh Abu Dawud, an-Nasa’I, at-Tirmidzi, Ibnu Majah, al-Hakim, dan lain-lain dengan sanad yang shohih sebagaimana telah kujelaskan di kitab “Shohih Abi Dawud” (677). Aku katakan : dan hadits ini merupakan nash yang jelas tentang meninggalkan shof di antara tiang-tiang, dan bahwa yang wajib adalah maju atau mundur (dari shof di antara tiang-tiang tersebut, pent).
Dan Ibnul Qosim telah meriwayatkan dalam al-Mudawwanah (1/106) dan al-Baihaqi (3/104) dari jalan Abu Ishaq dari Ma’di Karib dari Ibnu Mas’ud bahwa ia berkata :
لا تصفوا بين السواري
“Janganlah kalian membuat shof di antara tiang-tiang”. Al-Baihaqi berkata : “dan ini –Wallohu A’lam- karena tiang akan menghalangi mereka dari menyambung shof”. Berkata Malik : “tidak mengapa membuat shof di antara tiang-tiang jika masjidnya sempit”. Dan dalam al-Mughni oleh Ibnu Qudamah (2/220): “tidak dibenci berdiri di antara tiang-tiang bagi imam, akan tetapi dibenci bagi para makmum karena hal tersebut akan memutus shof-shof mereka. Ibnu Mas’ud dan an-Nakho’i membencinya, dan diriwayatkan pula dari Hudzaifah an Ibnu Abbas. Ibnu Sirin, Malik, Ash-habur Ro’yi, dan Ibnu Mundzir memberi rukhshoh (keringanan, pent) dalam masalah ini karena tidak ada dalil yang melarang. Dan diriwayatkan dari Mu’awiyah bin Qurroh … (lalu beliau membawakan hadits di atas, pent), dan karena tiang-tiang tersebut memutus shof. Jika shof yang terbentuk itu kecil sebatas jarak antara 2 tiang maka hal tersebut tidak dibenci karena shof tidak terputus dengan tiang”. Dan dalam Fathul Bari (1/477) : “berkata al-Muhib ath-Thobari : sebagian ‘ulama membenci membuat shof di antara tiang-tiang karena adanya larangan yang datang (dari Rosululloh, pent) tentang hal tersebut, dan sebab dibencinya adalah ketika tempat tidak sempit. Dan hikmahnya adalah baik karena menyebabkan terputusnya shof ataupun karena itu adalah tempat untuk sandal. Selesai nukilan. Dan al-Qutrhubi berkata : diriwayatkan tentang sebab dibencinya hal tersebut adalah karena tempat (antara tiang-tiang, pent) itu adalah tempat sholatnya para jin yang beriman.”
Aku katakan : dan serupa dengan hukum tiang tersebut adalah mimbar yang panjang yang memiliki tangga yang banyak, sesungguhnya ini memutus shof yang pertama dan terkadang shof kedua juga. Al-Ghozali berkata dalam al-Ihya (2/139) : “sesungguhnya mimbar memutus sebagian shof, dan shof pertama yang bersambung adalah yang berada di luar mimbar, adapun yang berada di kedua sisi mimbar itu terputus. Ats-Tsauri berkata : shof yang pertama adalah yang di luar kedua sisi mimbar yaitu yang didepannya karena shof tersebut bersambung dan karena orang yang duduk pada shof itu menghadap ke khotib dan mendengarkannya.”
Aku katakan : mimbar akan memutus shof jika mimbar tersebut menyelisihi mimbarnya Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam karena sesungguhnya mimbar beliau hanya memiliki 3 tingkat sehingga shof tidak akan terputus dengan mimbar semacam itu, karena imam berdiri di sisi tingkat yang terendah pada mimbar tersebut. Dan di antara akibat penyelisihan terhadap sunnah dalam masalah mimbar adalah terjatuh dalam larangan yang ada dalam hadits di atas.
Dan yang semisal dengan itu yang memutus shof adalah penghangat ruangan yang diletakkan di sebagian masjid dengan penempatan yang mengakibatkan terputusnya shof, tanpa adanya perhatian dari imam masjid atau salah seorang dari orang-orang yang sholat di sana terhadap larangan ini dikarenakan yang pertama, jauhnya orang-orang dari mempelajari ilmu agama; dan yang kedua, tidak adanya perhatian untuk menjauhi apa-apa yang dilarang dan dibenci oleh pembuat syari’at (Alloh, pent).
Dan sepatutnya diketahui bahwa setiap orang yang meletakkan mimbar yang panjang yang memutus shof atau meletakkan penghangat yang memutus shof, bahwa dikhawatirkan ia mendapatkan bagian yang banyak dari perkataan Rosululloh shollallohu alaihi wa sallam :
… و من قطع صفا قطعه الله
“…dan barangsiapa yang memutus shof maka Alloh akan memutus (rahmat)nya”.
Dikeluarkan oleh Abu Dawud dengan sanad yang shohih sebagaimana telah kujelaskan dalam “Shohih Abi Dawud” (no. 672).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar